Mengenal Area Pura Besakih Part 1

Nama: Ulun Kulkul

Letak: Barat

Pemujaan : Dewa Mahadewa

Piodalan : Tilem Sasih Ketiga

Mengapa pura ini disebut Pura Ulun Kulkul, karena di Pura ini terdapat hulunya Kulkul di seluruh Bali. Di pura ini umat mohon taksu kalau membuat kulkul atau kentongan sebagai alat komunikasi tradisional.

Pelinggih utama untuk pemujaan Bathara Mahadewa adalah di Pelinggih Gedong Sari. Pelinggih ini berbentuk segi empat beratap ijuk meruncing. Letaknya di arah tenggara dari areal Pura Ulun Kulkul dan diapit oleh Palinggih Pepelik  sebagai tempat mengaturkan upakara saat ada upacara besar atau kecil. Sementara kulkul besar hulu dari kulkul di Bali diletakkan di Pelinggih Bale Agung bertiang delapan.

Pura Ulun Kulkul juga berfungsi sebagai Pura untuk memohon keselamatan ”Sarwa Mule”. Yaitu barang-barang berharga seperti emas, perak, dan batu-batu permata yang diyakini memiliki tuah spiritual. Karena benda-benda ini bentuknya kecil sehingga sangat mudah hilang, apa lagi zaman dahulu tidak ada peti besi (bran-kaas, safety deposit box) seperti sekarang untuk menyimpan benda-benda berharga itu. Dengan memuja Tuhan sebagai Bhatara Mahadewa umat yakin akan keamanan barang-barang mereka yang berharga itu. Demikian juga umat yakin kalau memiliki barang-barang berharga mereka mohonkan Tirtha di Pura Ulun Kulkul sebagai stana Dewanya ”Sarwa Mule”. Hal itu diyakini akan mendapatkan perlindungan dari Bhatara Mahadewa. Demikian juga para pencuri akan takut mencuri barang-barang yang sudah dimohonkan perlindungan di Pura Ulun Kulkul.Kalau mereka berani mencuri mereka akan segera ketahuan atau akan mendapatkan ”pastu” dari Bhatara Mahadewa. Cara pengamanan ini bersifat Niskala. Pada zaman modern sekarang ini keyakinan orang pada hal-hal Niskala itu agak menipis, karena itu pengamanan Niskala itu hendaknya disertai dengan pengamanan Sekala. Di samping itu menurut ajaran Hindu dalam hidup ini memang tindakan manusia harus selalu diupayakan seimbang antara tindakan Sekala dan Niskala.Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai keseimbangan itu yang diawali dari melakukan upaya Niskala untuk memperoleh rasa aman sebagai salah satu unsur yang mutlak untuk mendapatkan hidup yang harmonis.

sumber : www.babadbali.com


Mengenal Chakra, Mengenal Kemampuan Diri Part 1

Muladhara Chakra: adalah  Chakra dasar / tulang belakang or known as Kundalini Chakra

Terletak : di dasar tulang belakang di sekitar pleksus coccygeal bawah sakrum


Bumi, identitas fisik, Orientasi untuk mempertahankan hidup
Terletak di dasar tulang punggung, cakra ini membentuk pondasi manusia. Ini merupakan elemen bumi, dan karena itu berhubungan dengan naluri kelangsungan hidup kita, dan kita merasakan landasan dan koneksi ke tubuh kita dan bidang fisik. Idealnya chakra ini membawa kesehatan, kesejahteraan, keamanan, dan keberadaan. Chakra ini juga merupakan kendaraan Metafisika dari Ganesha.


Elemen:
Bumi. Tubuh fisik, kelangsungan hidup, jejak masa lalu

Empat helai Teratai melambangkan Dharma, Artha, Kama dan Moksa


Om Asatoma Sadgamaya

A remarkable mantra from the Yajur Veda. It is also in Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 1.3.28

असतोमा सद्गमय।
तमसोमा ज्योतिर् गमया।
मृत्योर्मामृतं गमय॥

Aum
Asato mā sad gamaya
Tamaso mā jyotir gamaya
Mṛtyormā amṛtam gamaya
Aum śānti śānti śāntiḥ

meaning:

Aum
from non-truth lead me to truth
from darkness lead me to light
from death lead me to immortality

peace, peace,peace

Mahamrityunjaya Mantra

Om Tryambakam Yajamahe
Sugandhim Pushtivardhanam
Urvarukamiva Bandhanan
Mrityor Mukshiya Maamritat

We Meditate on the Three-eyed reality
Which permeates and nourishes all like a fragrance.
May we be liberated from death for the sake of immortality,
Even as the cucumber is severed from bondage to the creeper.

Description:

The Mahamrityunjaya Mantra (Sanskrit: महामृत्युंजय मंत्र, Mahāmṛtyuṃjaya Mantra ”great death-conquering mantra”), also called the Tryambakam Mantra, is a verse of the Rigveda (RV 7.59.12). It is addressed to Tryambaka “the three-eyed one”, an epithet of Rudra, later identified with Shiva. The verse also recurs in theYajurveda (TS 1.8.6.i; VS 3.60)

sources: http://en.wikipedia.org/wiki/Mahamrityunjaya_Mantra

This mantra is one of the more potent of the ancient Sanskrit mantras. Maha mrityunjaya is a call for enlightenment and is a practice of purifying the karmas of the soul at a deep level. It is also said to be quite beneficial for mental, emotional, and physical health.

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang
kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.

Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga
sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali
Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon,(Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum
dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut
diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura
Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).

Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk
melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya
dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud
adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata “Jawa” di sini sama dengan “Jaba”, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata “bali” dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.

Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga
disebutkan “nirmalakena” (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.”

Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten
byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.

Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah.
Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkanmenghaturkan canang meraka dan “matirta gocara”. Upacara tersebut barmakna, umat
menikmati waranugraha Dewata.

Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana

BMK Sekarang Goes Mobile

Om Swastiastu,

Krama Banjar sane wangiang Tityang.
Untuk memudahkan kita melakukan update tulisan di “Balai Banjar” kita ini, sekarang banjar-muda-kencana.org bisa diakses dengan versi lite/mobile yang lebih simple dan ringan.

Diharapkan dengan vasilitas ini, Krama Banjar sareng sami, bisa ikut serta menyumbangkan kreatifitas,pengetahuan, spiritual dan pemikiran pemikiran dalam bentuk tulisan.

Untuk bisa menyumbang tulisan diperlukan login ke dalam Dasboard website. Untuk itu silahkan mengirim email ke admin[at]banjat-muda-kencana.org untuk merequest username dan password sementara.

Sapunika Pengarah-arah rahinane mangkin.

Kirang Langkung Tityang sekadi Sinoman Nunas Sinampura.

Om Canti Canti Canti OM

Pengelompokan Pura

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:

1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.
2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.

Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.

Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut (Titib, 2003: 96-100), maka terdapat beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut.

1) Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.
Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

2) Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.

3) Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya.
Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

4) Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin .

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau marajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut sanggah gede atau pamarajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadya) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura paibon atau pura panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Didalam rontal Úiwàgama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih Påtiwì dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :

1). Berdasarkan atas Fungsinya :
(a). Pura Jagat, yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya).
(b). Pura kawitan, yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja “Àtmàúiddhadevatà“ (roh suci leluhur).

2). Berdasarkan atas Karakterisasi nya
(a). Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat.
(b). Pura Kahyangan Desa (teritorial )yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat.
(c). Pura Swagina (pura fungsional)yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak, Melanting dan sebagainya .
(d). Pura Kawitan,yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, panataran, padharman dan yang sejenisnya.

Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Úraddhà atau Tatwa agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau prabhawa-Nya dan konsepsi Àtman manunggal dengan Brahman (Àtmàúiddhadevatà) menyebabkan timbulnya pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat di samping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau klen tertentu saja.

sumber http://www.e-banjar.com/content/view/213/246/lang,en/

Intisari Bhagawadgita Part I

Krishna mengendarai kereta di antara kedua laskar sehingga Arjuna dapat melihat semua sanak keluarganya saling berhadapan. Dengan hati penuh keharuan yang mendalam Arjuna berkata, “Oh Krishna! Saya tidak dapat bertempur! Saya diliputi oleh rasa tak berdaya! Saya tidak mengerti apakah kewajiban saya. Saya adalah pengikut-Mu. Saya pasrah sepenuhnya kepada-Mu. Berilah saya petunjuk”.

Lalu Yang Maha Pemurah menjawab, “Arjuna, tinggalkanlah sikap yang lemah ini. Itu tidak pantas bagimu. Jangan menyerah pada kelemahan. Kesedihanmu itu tidak ada gunanya tidak berdasarkan kebenaran. Ketahuilah kebenaran atma, Arjuna. Seperti halnya orang menanggalkan pakaiannya yang usang dan mengenakan pakaian yang baru, demikian pula atma meninggalkan badan (yang lama) dan masuk ke badan yang baru. Badan itu dilahirkan dan apa yang lahir akan mati; tetapi atma yang kekal tidak pernah dilahirkan dan tidak pernah mati. Senjata tidak dapat melukainya, api tidak dapat membakarnya, air tidak dapat membasahinya, dan angin tidak dapat mengeringkannya. Atma ini bukan badan yang dapat musnah. Ia adalah diri yang kekal pada setiap orang. Bila engkau sudah mengetahui hal ini mengapa bersedih hati? Orang bijaksana tidak pernah bersedih hati…baik untuk yang mati maupun untuk yang hidup”.

“Akulah atma itu, Arjuna. Aku Yang Mahakuasa yang bersemayam dalam hati setiap makhluk. Aku merupakan Bapak Alam ini dan juga Ibu serta pemeliharaannya. Akulah awal, pertengahan, dan akhir. Segala sesuatu berasal dari Aku. Jalan apa pun yang ditempuh manusia itu adalah jalan-Ku. Walau Aku tidak pernah lahir dan tidak pernah berubah selama-lamanya, Aku menjelma dari zaman ke zaman. Bila kebajikan merosot dan kejahatan merajalela, Aku menjelma, untuk mempertahankan kebajikan dan menghancurkan kebatilan”.

“Karena Aku terselubung oleh kemampuan maya-Ku yang gaib, mereka tidak mengenal Aku. Walau mereka tidak mengenal Aku, Arjuna, Aku mengetahui mereka semua…apa yang telah lalu, yang terjadi sekarang, dan yang akan datang. Karena tidak mengetahui sifat-Ku yang adikodrati itu, orang bodoh menganggap Aku yang tidak berwujud dan kekal ini sebagai orang biasa. Karena tidak mengetahui kenyataan-Ku, mereka mengabaikan Aku dan sibuk dalam keduniawian, dipenuhi oleh harapan yang sia-sia. Karena tersesat dalam kesimpangsiuran maya, mereka diputar-putar seperti boneka-boneka di atas komidi putar.

“Maya-Ku yang gaib ini sangat sulit diatasi. Di antara ribuan orang, barangkali hanya seorang yang berusaha mengetahui kebenaran-Ku; bahkan di antara mereka yang berusaha dengan gigih ini, barangkali hanya seorang yang mengetahui kenyataan-Ku yang sejati. Ia adalah yogi yang memiliki kebijaksanaan yang mantap. Karena itu, Arjuna, jadilah seorang yogi! Pasrahkan dirimu sepenuhnya kepada-Ku, dan dengan rahmat-Ku engkau akan memperoleh kedamaian yang tertinggi. Mulai saat ini pusatkan selalu pikiranmu dengan mantap kepada-Ku yang berada dalam hatimu. Berbaktilah kepada-Ku, bersujudlah kepada-Ku, pujalah Aku yang selalu ada dalam dirimu, dan engkau akan segera menyatu dengan Aku. Ya, hal ini sungguh-sungguh Kujanjikan kepadamu, Arjuna, karena engkau sangat Kucintai,”

“Arjuna, siapa yang bekerja untuk-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan utamanya, siapa saja yang berbhakti kepada-Ku dan tidak terikat, tidak mempunyai rasa benci terhadap makhluk apa pun juga, akan segera mencapai Aku. Ia yang mengetahui kelahiran dan karya-Ku yang suci, tidak akan lahir lagi sesudah mati. Ia melihat Aku di mana-mana, yang kekal di antara yang tidak kekal, yang bersemayam dalam semua makhluk. Ia tetap melihat, Aku pun tetap melihat dia. Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan, akan kutanggung bebannya dan Kuberi apa yang mereka butuhkan. Mereka senantiasa merasa puas dan gembira bila membicarkan tentang diri-Ku. Berkat rasa kasih-Ku kepada mereka, Aku tingkatkan kemampuan mereka untuk membeda-bedakan, dan dengan sinar pengetahuan Kulenyapkan kegelapan serta kebodohan yang menghalangi pandangan mereka. Karena mampu menguasai indera, mereka mencapai pengetahuan utama; karena bebas dari perbuatan jahat, mereka mencapai kebahagiaan tertinggi karena mampu melampaui dunia yang mengalami kematian dan kehancuran, mereka mencapai kekekalan.”

“Arjuna, siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku dengan penuh kasih, apakah itu sehelai daun, sekuntum bunga, atau sebutir buah, bahkan air sekalipun…persembahan semacam itu yang timbul dari hati yang suci, tentu akan Aku terima. Apa pun yang engkau kerjakan, apa pun yang engkau makan atau kurbankan atau sedekahkan, olah tapa apa pun yang engkau lakukan, persembahkanlah semua itu kepada-Ku. Engkau akan terbebaskan dari akibat segala perbuatanmu, dan segera batinmu akan tenang serta diberkati dengan penyangkalan diri. Dengan memiliki keseimbangan batin dan tidak memperhitungkan jerih payahmu, engkau akan terbebaskan selama-lamanya dari belenggu kelahiran. Karena itu, serahkanlah semua perbuatanmu kepada-Ku. Pusatkanlah pikiranmu melalui dirimu dan membebaskan engkau dari segala dosa. Janganlah engkau takut. Berkat rahmat-Ku engkau akan mengatasi segala rintangan.”

“Namun bila karena keangkuhanmu engkau tidak mendengarkan Aku, engkau pasti akan binasa. Boleh jadi engkau berpikir, ‘Aku tidak mau bertempur’ namun terdorong oleh rasa tanggung jawabmu, sifatmu itu akan memaksa engkau untuk bertempur. Bagaimanapun juga engkau akan bertempur, meski dalam khayalanmu engkau tidak ingin melakukannya. Bangkitlah wahai Arjuna! Dengan pedang pengetahuan yang telah Kuberikan kepadamu, basmilah kebodohan serta khayalan yang timbul dari padanya, yang meragukan kebenaran Tuhan yang bersemayam dalam hatimu. Arjuna, bangkitlah dan raihlah kemenangan! Engkau telah disumpah untuk menegakkan dharma! Kekuasaan kebatilan telah merajalela. Engkau harus menghadapi dan menghancurkannya. Berlindunglah pada-Ku, Arjuna. Ingatlah kepada-Ku selalu…dan bertempurlah! Bukan engkau yang akan membunuh para ksatria ini, tetapi Aku. Akulah pencipta alam ini dan pemeliharanya, tetapi Aku juga merupakan waktu, kemampuan maha dahsyat yang menghancurkan dunia dan memusnahkan segalanya. Semua perwira dalam laskar lawan ini telah binasa oleh-Ku.”

“Arjuna, engkau hanya merupakan alat bagi-Ku untuk bertindak. Sekarang Kuberikan kepadamu penampakan wujud universal-Ku; di situ engkau dapat melihat ke-Esaan seluruh alam semesta. Lihatlah kemampuan dewata-Ku! Lihatlah seluruh alam semesta yang bergerak dan yang tidak bergerak, semuanya menyatu dalam diri-Ku!” Dengan diliputi oleh rasa heran serta kekaguman Arjuna menundukkan kepala penuh hormat dan menangkupkan tangan seraya berkata, “Oh Tuhan Yang Maha Kuasa! Terpujilah Engkau! Terpujilah selama-lamanya! Kecemerlangan seribu matahari yang menyala bersama di angkasa tidak akan berarti jika dibandingkan dengan kemegahan-Mu! Engkau adalah Yang Maha Tinggi…pelindung abadi dharma yang kekal. Engkau adalah segala-galanya yang patut diketahui. Melihat wujud-Mu yang mengagumkan, seluruh alam gemetar ketakutan, demikian pula daku. Bagaikan sungai-sungai yang mengalir ke laut, demikianlah para pahlawan dalam dunia manusia ini masuk ke mulut-Mu yang menyala-nyala.”

Sesudah itu Tuhan Yang Maha Suci kembali kepada wujud-Nya yang semula dan berkata, “Telah Kutunjukkan kepadamu wujud pramula-Ku yang Mahabesar. Memang sangat sukar melihat apa yang telah kau saksikan. Wujud-Ku seperti itu tidak dapat dilihat melalui pengkajian kitab-kitab suci, tidak pula melalui tapa, amal, atau yajna ‘pengorbanan’, melainkan hanya dapat dilihat melalui bhakti atau pengabdian yang sungguh-sungguh. Pengalaman yang telah Kuberikan kepadamu dan pengetahuan yang telah Kuajarkan kepadamu merupakan harta yang sangat berharga. Apakah engkau mendengarkan Aku dengan penuh konsentrasi Arjuna? Apakah khayalan yang bersumber pada ketidaktahuanmu telah lenyap? Pikirlah semua yang Kukatakan kepadamu, renungkan dalam-dalam, lalu kerjakanlah apa yang menyenangkan hatimu”.

Arjuna berkata, “Ya Tuhan penguasa alam semesta ini! Kata-kata-Mu yang sarat dengan kemampuan dan menakjubkan mengandung pengetahuan yang sangat tinggi, dan Engkau telah mengucapkannya dengan penuh belas kasihan. Atas rahmat-Mu khayalan saya yang menyesatkan kini telah musnah. Saya bangkit tanpa keraguan lagi. Saya mohon bimbingan-Mu. Akan saya kerjakan apa pun yang kau perintahkan.”

Continue……

source http://www.indoforum.org/showthread.php?t=78630

Mahasiddha Bali (Orang-orang Suci Bali)

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana Buddha dari Kediri ketika jaman Erlangga, beliau adalah kakak ipar dari Mpu Baradah seorang Mahasiddha di Jawa.Beliau berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Pada saat itu beliau mampu menyatukan berbagaimacam aliran atau sekte yang berkembang dibali. Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Beliau berhasil menyatukan sekte-sekte yang berkembang dibali disatukan menjadi paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider) di Pura Samuan Tiga ketika pemerintahan Raja Udayana di Bali.

4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek (selat Bali di gilimanuk).

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 dari desa keling dijawa, beliau adalah keturunan Brahmana Buddha tetapi beralih menjadi Brahmana Siwa, ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

7. DANGHYANG ASTAPAKA

Datang di Bali pada abad ke-14 dari desa keling dijawa, beliau adalah keturunan Brahmana Buddha saudara sepupu dari Danghyang Dwijendra, ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong beliau diundang kebali oleh kakak beliau untuk bersama memuput upacara dibesakih, setelah sampai di istana gelgel beliau diuji untuk menebak binatang didalam sumur yang ditutup. Beliaupun menjawab Naga, Dalem dan patihnya tertawa keras karena sebelumnya mereka menaruh angsa didalam sumur, tetapi setelah dibuka yang keluar malah seekor Naga, disanalah munculnya prosesi Naga Banda untuk upacara Ngaben bagi keturunan Dalem.

Pada saat pemberontakan Ki Batan Jeruk beliau bersama sisya pengiring mengungsi dari gelgel menuju karangasem dan membuat pesraman di Budakeling. sampai saat ini banyak jasa beliau dalam mempertahankan konsep keBuddhaan dan menurunkan Brahmana Buddha.

Ke-tujuh tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali, karena dibali sesungguh Siwa Sidhanta dan Buddha kasogatan menjadi satu dalam keseharian hidup dan ritual orang bali yang penuh Shanti.

N. Dwipayana, ST

Apakah Agama Orang Bali??

Ketika kita melihat Hindu tentu kita akan melihat India, ketika kita melihat Buddha kita akan melihat Thailand dan China, Ketika kita melihat Islam kita akan melihat Arab bagaimana dinegara-negara tersebut agama itu berkembang pesat. lalu bagaimana dengan bali yang notabene orang mengatakan Hindu tetapi sangat jauh berbeda dengan negara asalnya? itulah yang menjadi pertanyaan banyak orang apakah sesungguhnya agama dibali yang konon katanya berpaham Siwa Sidhanta. Disini saya akan mencoba mengulas sejarah awal Siwa, Buddha perkembangannya dan dinamikanya sampai disebut Siwa Sidhanta sebatas pemikiran dan kesadaran saya.

Sinkretisme Siva-Buddha di Indonesia adalah suatu gejala keagamaan yang sangat komplek. Istilah-istilah: siva-buddha tunggal dan bhinneka tunggal ika, secara khusus, memang bisa memberi indikasi yang kuat tentang sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia. Tetapi dalam arti yang lebih luas sumber-sumber sastra Jawa Kuna yang memuat istilah-istilah tersebut secara keseluruhan tidak berbicara tentang kemanunggalan di antara kedua sistem keagamaan tersebut. Para sarjana, peneliti dan pemerhati, telah mengkaji masalah ini dari berbagai sudut pandang. Tetapi masalah Siva-Buddha tidak sesederhana seperti yang diperkirakan sebelumnya. Kebanyakan para sarjana menganggap bahwa masalah Siva-Buddha sudah selesai dengan mengutip sumber-sumber yang terbatas dalam kesusastraan Jawa Kuna. Masalah Siva-Buddha bukan terjadi karena diambil begitu saja melalui sumber-sumber arkeologi maupun sumber-sumber sastra. Keberadaannya dalam panggung sejarah karena kontribusi yang diberikan oleh para sarjana, baik para orientalis barat, sarjana India maupun sarjana Indonesia. Itulah sebabnya masalah Siva-Buddha ini menjadi semakin komplek karena diwarnai oleh silang pendapat para sarjana.

Kompleksitas permasalahan tersebut sudah tampak sejak di India, yaitu dengan adanya kenyataan “saling menukar” dewa-dewa di antara agama Hindu, Buddha dan Jaina. Dewa-dewa Hindu seperti Parvati dan Indra ditemukan di antara dewa-dewa Jaina, demikian juga dewa ganapati , Saraswati, Mahakala, Nilakantha, dan sebagainya, terkenal di antara dewa-dewa Buddha. Sementara Hindu meminjam dewa-dewa Buddha seperti Mahacina Tara, Janguli dan Vajrayogini di bawah nama Tara, Manasa dan Chinna-masta. Kenyataan ini menyulitkan para peneliti untuk memberi batasan yang tegas mengenai sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme. Di Indonesia, kesusastraan Jawa Kuno, tidak hanya berbicara tentang penyamaan-penyamaan yang terbatas antara Siva dan Buddha, melainkan juga diantara kelompok-kelompok dewa dalam agama Hindu dan Buddha, di samping penyamaan dewa-dewa dalam intern agama Hindu dan intern agama Buddha secara terpisah. Buddha kadang-kadang disamakan dengan Visnu. Di tempat lain Buddha disamakan dengan Brahma, atau Visnu disejajarkan kedudukannya dengan Siva (Harihara).

Tulisan-tulisan tentang Siva-Buddha, baik berupa artikel maupun hasil-hasil penelitian, sudah cukup banyak dipublikasikan. Namun, suatu gejala yang aneh bahwa di Bali sendiri, umat Hindu yang memuja tuhan “Siva-Buddha” sebagai Sanghyang Tunggal, kebanyakan belum memahami realitas ini. Padahal teks-teks yang menguraikan tentang sinkretisme Siva-Buddha di Bali terus bermunculan sampai pada zaman modern ini. Lebih dari itu, hasil penelitian menunjukkan, gejala sinkretisme Siva-Buddha di Bali merupakan yang terbesar dibanding masa-masa sebelumnya, baik di Jawa Timur (pada zaman Majapahit), maupun di India (pada Dinasti Pala). Kenyataan ini menuntut adanya penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai eksistensi Siva-Buddha dalam realitas kehidupan umat Hindu di Bali. Penelitian ini akan memfokuskan kajian pada dinamika atau evolusi Siva-Buddha dalam ajaran Tantra yang menjadi medium penyatuan Siva-Buddha di Bali. Dengan fokus kajian tersebut, diharapkan mampu memberi gambaran tentang eksistensi Siva-Buddha dalam realitas masyarakat umat Hindu di Bali.

Dalam keseharian secara ritual umat hindu lebih banyak memakai ritual siwa dan memaknai kehidupan dengan ajaran Buddha. Umat bali pada umumnya sangat percaya akan hukum karmaphala dan renkarnasi dimana hal ini menjadi titik temu kedua paham tersebut. Dalam bentuk ritual umat hindu tidak membedakan antara Siwa dan Buddha, dalam upacara besar kedua pendeta tersebut mendapat kedudukan yang tinggi dimana Brahmana Siwa dan Buddha diberikan wewenang untuk menyelesaikan upacara.

Brahmana Siwa saat ini terdiri dari keturunan Dang Hyang Nirarta yang disebut Ida Pedanda Siwa. dewasa ini dengan tergerusnya sistem kasta muncul brahmana dari latar belakang umat awam (bukan keturunan brahmana) dimana secara mental dan fisik siap dan secara ilmu agama berhak mendapat diksa yang disebut Ida Sri Mpu. Dalam prosesinya lebih cendrung seperti aliran tantra yaitu mengunakan mudra, visualisasi dan pemujaan kepada arah mata angin sesuai dengan dewanya masing-masing. dalam sarananya Brahmana siwa memakai satu genta dikiri disebut Bajra Genta.

Brahmana Buddha yang ada dibali secara mantra dan kitab berbeda dengan pendeta siwa, kitab yang digunakan adalah Sang Hyang Kamahayanikan dan puja astawa memuja dharani Buddha sebagai penguasa masing-masing arah. Sampai saat ini yang memegang teguh garis perguruan Brahmana Buddha hanya mereka keturunan Yang Maha Suci Dang Hyang Astapaka di Budakeling karangasem. Para Brahmana dalam ritualnya tidak memusung rambut seperti pendeta Siwa tetapi bebas. Pendeta Siwa memiliki banyak batasan dalam hal makanan, tapi tidak demikian dengan pendeta Buddha mereka bebas dalam hal itu. tetapi dalam hal ritual diksa pendeta Buddha tidak sembarangan dalam melakukan diksa. tidak semua siswa nabe akhirnya didiksa, hanya mereka yang benar-benar siddhi dan mampu menggunakan Bajra nengen sejenis senjata Vajra ditangan kanan untuk pelindung ketika upacara yang akhirnya memperoleh diksa. dalam hal upacara ritual Brahmana buddha memakai dua Bajra yaitu: Bajra Genta dan Bajra Nengen ( Bajra Genta dikiri untuk menghubungkan dengan para Dewa dan Buddha, Bajra Nengen dikanan untuk melindungi sang pendeta dari serangan Butha dan asura). Dalam Upacara besar di bali tidak akan lengkap tanpa kehadiran Brahmana Buddha. dan di Pura terbesar dibesakih wajib bagi tiga pendeta untuk menyelesaikan upacara pendeta SIwa, Buddha dan Waisnawa tanpa ketiga pendeta tersebut ketiga alam bhur, bwah dan Swah tidak akan disucikan secara keseluruhan.

Ketaatan dan bhakti dalam ajaran Siwa Siddhanta dan filosofi pelepasan samsara yang agung dari Buddha Tantrayana telah mebuat Bali dijuluki Sorga Dunia, Pulai dewata, Pulau seribu pura… banyak wisatawan asing dan manca negara akhirnya menemukan kedamian di bali. karena dibali agama bukan diperdebatkan tetapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. konsep buddha untuk mengasihi setiap mahluk hidup bagi orang bali sangat ditaati, itulah bukan hanya dipura saja diberikan persembahan, tetapi kepada butha diperempatan, asura-asura dan mahluk halus lainnya ditempat-tempat keramat dibuatkan tempat agar mereka tenang dan tidak mengganggu manusia.

Paham apapun yang datang kebali dari dahulu akan disaring dan bahkan disatukan dengan konsep ajaran terdahulunya yang mana baik dan sesuai dengan jati diri mereka. Bagi orang bali berbagi dan memberi adalah anugrah… karena hal itulah yang menimbulkan akhir dari pencarian spiritual orang bali yaitu Om Shanti Shanti Shanti Om yang berarti damai dihati damai semua mahluk disekitar kita dan damai seluruh mahluk dialam semesta ini (Gede Prama). inilah yang menjadi agama sesungguhnya bagi orang bali yaitu Santhi (kedamaian).

Switch to our mobile site