Archive for January, 2010
Prihal Beragama
Tuesday, January 5th, 2010Perihal beragama, adalah bukan sekedar meyakini. Merasakan, mengalami, menyatakannya dalam karya, dan membagikan adalah beragama.
Bukan timbul dari rasa takut, karena ketika aman, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena rasa takut, maka kita akan menjadi penyebar kengerian dan terror.
Bukan timbul karena suatu keinginan dan usaha untuk mengabulkannya, karena ketika hasrat kita tak kesampaian, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena imbalan pahala, maka kita akan menjadi tak lebih dari pedagang yang sedang menjual barang-barang.
Bukan timbul karena kewajiban atau rasa terimakasih, karena ketika hak tidak diberikan, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena rasa kewajiban, maka kita tengah mengajarkan ketidaktulusan.
Agama adalah mengenai cinta, kerelaan dan pengorbanan, kerinduan perpisahan dan perjumpaan, tentang sukacita dan bahagia. Bila kita membagikan agama, kita membagikan cinta dan kebahagiaan. Kita berbelaskasih bukan menghakimi. Kita mengapresiasi bukan menilai. Sorak sorai gembira kita bukan karena bahagia tapi karena melihat kebahagiaan. Sedih hati kita bukan karena derita tapi karena yang lain berduka. Berpesta bukan karena mendapat nikmat surga, namun karena merasakan kesejukannya bahkan di tengah api neraka. Pesta orang beragama adalah pestanya setetes hujan yang jatuh di padang gurun.
Beragama adalah perihal mencintai dan berbahagia. Orang yang beragama adalah kerabat dekat sang mempelai dalam pesta perkawinan. Yang berbahagia demi membawa kebahagiaan ke tengah-tengah keluarga, ke dalam dunia. Demi ini dia memberi bukan dihadiahi. Dalam pemberian dia memperoleh kelimpahan, dalam pengorbanan dia memperoleh kepenuhan, dalam persembahannya dia memperoleh kesempurnaan.
Beragama adalah belajar menjadi kayu bakar demi hidup api unggun yang menghangatkan para pengembara yang tersesat, kedinginan di hutan beku. Membantu sedikit mengobarkan nyalanya, sekalipun di akhir yang tersisa hanya abu… hanya abu
Oleh : Venkateshwar Rangarajadasan



