Archive for the ‘Lentera Hati’ Category

Intisari Bhagawadgita Part I

Wednesday, May 5th, 2010

Krishna mengendarai kereta di antara kedua laskar sehingga Arjuna dapat melihat semua sanak keluarganya saling berhadapan. Dengan hati penuh keharuan yang mendalam Arjuna berkata, “Oh Krishna! Saya tidak dapat bertempur! Saya diliputi oleh rasa tak berdaya! Saya tidak mengerti apakah kewajiban saya. Saya adalah pengikut-Mu. Saya pasrah sepenuhnya kepada-Mu. Berilah saya petunjuk”.

Lalu Yang Maha Pemurah menjawab, “Arjuna, tinggalkanlah sikap yang lemah ini. Itu tidak pantas bagimu. Jangan menyerah pada kelemahan. Kesedihanmu itu tidak ada gunanya tidak berdasarkan kebenaran. Ketahuilah kebenaran atma, Arjuna. Seperti halnya orang menanggalkan pakaiannya yang usang dan mengenakan pakaian yang baru, demikian pula atma meninggalkan badan (yang lama) dan masuk ke badan yang baru. Badan itu dilahirkan dan apa yang lahir akan mati; tetapi atma yang kekal tidak pernah dilahirkan dan tidak pernah mati. Senjata tidak dapat melukainya, api tidak dapat membakarnya, air tidak dapat membasahinya, dan angin tidak dapat mengeringkannya. Atma ini bukan badan yang dapat musnah. Ia adalah diri yang kekal pada setiap orang. Bila engkau sudah mengetahui hal ini mengapa bersedih hati? Orang bijaksana tidak pernah bersedih hati…baik untuk yang mati maupun untuk yang hidup”.

“Akulah atma itu, Arjuna. Aku Yang Mahakuasa yang bersemayam dalam hati setiap makhluk. Aku merupakan Bapak Alam ini dan juga Ibu serta pemeliharaannya. Akulah awal, pertengahan, dan akhir. Segala sesuatu berasal dari Aku. Jalan apa pun yang ditempuh manusia itu adalah jalan-Ku. Walau Aku tidak pernah lahir dan tidak pernah berubah selama-lamanya, Aku menjelma dari zaman ke zaman. Bila kebajikan merosot dan kejahatan merajalela, Aku menjelma, untuk mempertahankan kebajikan dan menghancurkan kebatilan”.

“Karena Aku terselubung oleh kemampuan maya-Ku yang gaib, mereka tidak mengenal Aku. Walau mereka tidak mengenal Aku, Arjuna, Aku mengetahui mereka semua…apa yang telah lalu, yang terjadi sekarang, dan yang akan datang. Karena tidak mengetahui sifat-Ku yang adikodrati itu, orang bodoh menganggap Aku yang tidak berwujud dan kekal ini sebagai orang biasa. Karena tidak mengetahui kenyataan-Ku, mereka mengabaikan Aku dan sibuk dalam keduniawian, dipenuhi oleh harapan yang sia-sia. Karena tersesat dalam kesimpangsiuran maya, mereka diputar-putar seperti boneka-boneka di atas komidi putar.

“Maya-Ku yang gaib ini sangat sulit diatasi. Di antara ribuan orang, barangkali hanya seorang yang berusaha mengetahui kebenaran-Ku; bahkan di antara mereka yang berusaha dengan gigih ini, barangkali hanya seorang yang mengetahui kenyataan-Ku yang sejati. Ia adalah yogi yang memiliki kebijaksanaan yang mantap. Karena itu, Arjuna, jadilah seorang yogi! Pasrahkan dirimu sepenuhnya kepada-Ku, dan dengan rahmat-Ku engkau akan memperoleh kedamaian yang tertinggi. Mulai saat ini pusatkan selalu pikiranmu dengan mantap kepada-Ku yang berada dalam hatimu. Berbaktilah kepada-Ku, bersujudlah kepada-Ku, pujalah Aku yang selalu ada dalam dirimu, dan engkau akan segera menyatu dengan Aku. Ya, hal ini sungguh-sungguh Kujanjikan kepadamu, Arjuna, karena engkau sangat Kucintai,”

“Arjuna, siapa yang bekerja untuk-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan utamanya, siapa saja yang berbhakti kepada-Ku dan tidak terikat, tidak mempunyai rasa benci terhadap makhluk apa pun juga, akan segera mencapai Aku. Ia yang mengetahui kelahiran dan karya-Ku yang suci, tidak akan lahir lagi sesudah mati. Ia melihat Aku di mana-mana, yang kekal di antara yang tidak kekal, yang bersemayam dalam semua makhluk. Ia tetap melihat, Aku pun tetap melihat dia. Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan, akan kutanggung bebannya dan Kuberi apa yang mereka butuhkan. Mereka senantiasa merasa puas dan gembira bila membicarkan tentang diri-Ku. Berkat rasa kasih-Ku kepada mereka, Aku tingkatkan kemampuan mereka untuk membeda-bedakan, dan dengan sinar pengetahuan Kulenyapkan kegelapan serta kebodohan yang menghalangi pandangan mereka. Karena mampu menguasai indera, mereka mencapai pengetahuan utama; karena bebas dari perbuatan jahat, mereka mencapai kebahagiaan tertinggi karena mampu melampaui dunia yang mengalami kematian dan kehancuran, mereka mencapai kekekalan.”

“Arjuna, siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku dengan penuh kasih, apakah itu sehelai daun, sekuntum bunga, atau sebutir buah, bahkan air sekalipun…persembahan semacam itu yang timbul dari hati yang suci, tentu akan Aku terima. Apa pun yang engkau kerjakan, apa pun yang engkau makan atau kurbankan atau sedekahkan, olah tapa apa pun yang engkau lakukan, persembahkanlah semua itu kepada-Ku. Engkau akan terbebaskan dari akibat segala perbuatanmu, dan segera batinmu akan tenang serta diberkati dengan penyangkalan diri. Dengan memiliki keseimbangan batin dan tidak memperhitungkan jerih payahmu, engkau akan terbebaskan selama-lamanya dari belenggu kelahiran. Karena itu, serahkanlah semua perbuatanmu kepada-Ku. Pusatkanlah pikiranmu melalui dirimu dan membebaskan engkau dari segala dosa. Janganlah engkau takut. Berkat rahmat-Ku engkau akan mengatasi segala rintangan.”

“Namun bila karena keangkuhanmu engkau tidak mendengarkan Aku, engkau pasti akan binasa. Boleh jadi engkau berpikir, ‘Aku tidak mau bertempur’ namun terdorong oleh rasa tanggung jawabmu, sifatmu itu akan memaksa engkau untuk bertempur. Bagaimanapun juga engkau akan bertempur, meski dalam khayalanmu engkau tidak ingin melakukannya. Bangkitlah wahai Arjuna! Dengan pedang pengetahuan yang telah Kuberikan kepadamu, basmilah kebodohan serta khayalan yang timbul dari padanya, yang meragukan kebenaran Tuhan yang bersemayam dalam hatimu. Arjuna, bangkitlah dan raihlah kemenangan! Engkau telah disumpah untuk menegakkan dharma! Kekuasaan kebatilan telah merajalela. Engkau harus menghadapi dan menghancurkannya. Berlindunglah pada-Ku, Arjuna. Ingatlah kepada-Ku selalu…dan bertempurlah! Bukan engkau yang akan membunuh para ksatria ini, tetapi Aku. Akulah pencipta alam ini dan pemeliharanya, tetapi Aku juga merupakan waktu, kemampuan maha dahsyat yang menghancurkan dunia dan memusnahkan segalanya. Semua perwira dalam laskar lawan ini telah binasa oleh-Ku.”

“Arjuna, engkau hanya merupakan alat bagi-Ku untuk bertindak. Sekarang Kuberikan kepadamu penampakan wujud universal-Ku; di situ engkau dapat melihat ke-Esaan seluruh alam semesta. Lihatlah kemampuan dewata-Ku! Lihatlah seluruh alam semesta yang bergerak dan yang tidak bergerak, semuanya menyatu dalam diri-Ku!” Dengan diliputi oleh rasa heran serta kekaguman Arjuna menundukkan kepala penuh hormat dan menangkupkan tangan seraya berkata, “Oh Tuhan Yang Maha Kuasa! Terpujilah Engkau! Terpujilah selama-lamanya! Kecemerlangan seribu matahari yang menyala bersama di angkasa tidak akan berarti jika dibandingkan dengan kemegahan-Mu! Engkau adalah Yang Maha Tinggi…pelindung abadi dharma yang kekal. Engkau adalah segala-galanya yang patut diketahui. Melihat wujud-Mu yang mengagumkan, seluruh alam gemetar ketakutan, demikian pula daku. Bagaikan sungai-sungai yang mengalir ke laut, demikianlah para pahlawan dalam dunia manusia ini masuk ke mulut-Mu yang menyala-nyala.”

Sesudah itu Tuhan Yang Maha Suci kembali kepada wujud-Nya yang semula dan berkata, “Telah Kutunjukkan kepadamu wujud pramula-Ku yang Mahabesar. Memang sangat sukar melihat apa yang telah kau saksikan. Wujud-Ku seperti itu tidak dapat dilihat melalui pengkajian kitab-kitab suci, tidak pula melalui tapa, amal, atau yajna ‘pengorbanan’, melainkan hanya dapat dilihat melalui bhakti atau pengabdian yang sungguh-sungguh. Pengalaman yang telah Kuberikan kepadamu dan pengetahuan yang telah Kuajarkan kepadamu merupakan harta yang sangat berharga. Apakah engkau mendengarkan Aku dengan penuh konsentrasi Arjuna? Apakah khayalan yang bersumber pada ketidaktahuanmu telah lenyap? Pikirlah semua yang Kukatakan kepadamu, renungkan dalam-dalam, lalu kerjakanlah apa yang menyenangkan hatimu”.

Arjuna berkata, “Ya Tuhan penguasa alam semesta ini! Kata-kata-Mu yang sarat dengan kemampuan dan menakjubkan mengandung pengetahuan yang sangat tinggi, dan Engkau telah mengucapkannya dengan penuh belas kasihan. Atas rahmat-Mu khayalan saya yang menyesatkan kini telah musnah. Saya bangkit tanpa keraguan lagi. Saya mohon bimbingan-Mu. Akan saya kerjakan apa pun yang kau perintahkan.”

Continue……

source http://www.indoforum.org/showthread.php?t=78630

The God Within

Tuesday, May 5th, 2009

God is never an object of isolation but the very core of your being. The difference between Self and God is just like the wave and the ocean. Can there be a wave without the ocean?

Who are you? Do you know about yourself? Find out about yourself first. If you think you are just the body, that is not possible because the body has its limitations. If you think that you are the mind then that is also not possible because the mind too has its limitations. It is just another layer of our existence. If you know that you are Silence or that you are Space, then it is possible God is also space.

Just like your body is made up of proteins, amino acids and carbohydrates, your mind and soul are made up of love. You are made up of love. Everyone is full of love and love is God. So you are made up of God! Every little atom of your body is made up of love and that is what is God. Do not think God is sitting somewhere in heaven. God is here and now!

God is not somebody with a big white beard, sitting in heaven. God is love. He is space. When you are meditating, when you feel at peace, at home with everyone, you are in touch with the Divine force. Can you live without love? In the Upanishads, it is said kham kham brahma – the space is God, in which every thing is and into which everything dissolves.

What is not God? What is the definition of God, if at all there is one? You describe it as that which is everywhere; which is all-powerful, which is responsible for this creation, for its maintenance, and for its dissolution; which is Omnipresent, Omnipotent, and Omniscient. You say, “I want to see God”. When you want to see God as something, as an object, then it is not everywhere. Then you are not God. This wanting to see God as separate from you is also an illusion. God is not an object of senses, but the feeling of feelings, the presence of presence, the sound of silence, the light of life, the essence of the world and the taste of bliss.

Just as love is felt in the heart, so is God’s presence felt. God is never an object of isolation. God is the sum totality. When you dissolve, God remains. When you are there, there is no God. Either you can be there, or God can be there, not both. So when you meditate, you become one with God. You are God. That is why it is said, Tat tvam asi, meaning, ‘Thou art that.’

God is to be felt in the depth of your heart. God can neither be perceived through your senses nor through the mind. God is the seer himself. Who sees? That is God. Space is God. Space is everywhere, and everything is in space. Nothing can touch space. Nothing can destroy space. And you cannot see space as a separate object.

There are three types of space: Bhuta Aakash: Outer space in which all this universe exists, Chitta Aakash: The world of impressions, thoughts, and dreams that exist in your mind, and Chida Akaash: The sky of consciousness that is all permeating, everywhere; the consciousness, the basis of all creation, that is Divine – that which knows all.

You cannot make God an object of your sight. If you make it that, then it is no more God. You can live God, can be God, but you cannot consider God as an object which gives you the path.

The whole existence has a mind of its own. It is just like you. You have a mind and it has such intelligence, that’s why it keeps everything orderly. Similarly, this moment is seen by this big mind. This moment knows exactly what to do. There are so many activities happening in the whole creation. Right now, some people are sleeping, some are waking, some activity or the other is happening in the whole world. Right now enormous activity is happening in the mind, in the present. In the Now! This mind is what you can call Atma or God and that is what you are.

The one beyond the Self is God. First one needs to reach the Self at least. The difference between Self and God is just like the Wave and the Ocean. Can there be a wave without the ocean?

GOD is the Generator, Operator and Destroyer (Brahma, Vishnu and Maheshwara). The present moment has generated; the present moment is operating; and the present moment destroyed the past. So you are in God and God is in you. There is a place for everybody in the heart of the Divine.

The mind is so used to looking to the concrete and promises that it cannot appreciate something abstract. Then the mind needs promises. When you love somebody, you want a promise from them that they really love you. That is why Jesus says, “I am partially exposed so you will know what I’m saying to you. You just know me partially, and there is a big part of me that you do not know.”

If you are inside the house, the doors do not mean much to you. You do not need the door to be closed or open when you are already inside the house or inside the room. When you are not inside the room, you need the door to be opened. Jesus said, “You have burned enough in the sun, in the heat. You have roamed all over the place. Just come inside; this room is ready for you.” This is the confidence that a master gives you.

You do not believe what you do not know. You say that you do not believe in God. God is the very core of your being. Like an onion, if you start peeling the layers one by one, when you reach the center, there is nothing. Everything is made up of that space. The whole is God, everything is God and that consciousness is present everywhere. I am present here, I am present there, I am present everywhere. That being, that space, the very consciousness is what people have called God because it is present everywhere at all times. It is to that omnipresence, that omnipotence that all the different names have been given.

You can look at it this way. In the body there are many cells and each of them has its own life. New cells are coming up and old cells are dying but they have no knowledge of you. Yet, these cells are affected by you and you are affected by a single cell. In the same way, know that the big life and the big mind, which encompasses all our minds and all our lives, is what we can give the name – God. It is useless to find a meaning. A flower blooms. What is the purpose of beauty? You may say that it is to enjoy. What is the purpose of joy? There is no purpose to joy, it is an end in itself.

Life, when it is lived in its totality, is an end in itself and a beginning in itself. Love, joy, beauty, all that is precious and valuable in life, are really beyond value, beyond meaning, beyond purpose.

from http://www.srisri.org/god_within.html

Pilihan Sang Kumbakarna

Tuesday, April 7th, 2009
Kumbakarna

Kumbakarna

Semeton, masih ingatkah dengan kisah Itihasa Ramayana tentang Sang Kumbakarna? Ia adalah adik dari Dasamuka Rahwana. Dikisahkan ketika Alengka diserang oleh pasukan kera pimpinan Sang Rama memporak-porandakan Alengka. Hanuman telah membakar seluruh Alengka setelah menyampaikan pesan Rama kepada Dewi Shinta. Rahwana kemudian mebangunkan dan meminta bantuan adiknya, Kumbakarna.
Kumbakarna digambarkan sebagai sosok yang besar, menyeramkan dan dalam pewayangan terkadang Ia adalah sosok wayang yang paling besar (ada yang mencapai 1.5 meter). Ketika terbangun dari tidur panjangnya dan mendengar bahwa selama tertidur Ia mendapati negaranya telah hancur oleh pasukan Kera pimpinan Rama.
Kumbakarna adalah sosok bijaksana, nasehat Kumbakarna kepada sang kakak Rahwana tidak digubris sama sekali. Rahwana tetap bersikeras akan melawan Rama meskipun Kumbakarna telah menasehati sang kakak bahwa tidaklah mungkin menang melawan Sang Kemenangan itu sendiri. Karena Rama adalah titisan Wisnu.
Kumbakarna, demi cintanya kepada negara, bersumpah akan melawan dan membela negaranya untuk melawan pasukan pimpinan Rama. Ia berkata bahwa “yang saya bela adalah tumpah darah saya, leluhur saya dan bukan keinginan kakak Rahwana”. Sebelum berperang, Ia sampaikan pesan ini ke Rama bahwa semangat cinta negara lah yang membawanya ke medan tempur. Ia gugur sebagai seorang ksatria. Ia gugur membela negara dan bukan kepentingan sang kakak Rahwana.
Kumbakarna dan Nasionalisme
Semeton, Weda berkata bahwa Weda takut akan kebodohan. Weda menyarankan untuk membaca dan memahami Itihasa Ramayana dan Mahabarata sebelum melanjutkan membaca Weda. Sari dari Itihasa sangatlah luar biasa. Kisah cinta negara dari Kumbakarna diatas adalah contoh perilaku yang mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi.
Kumbakarna, hanya tempatnyalah ada di sisi yang buruk tapi hatinya tetap seorang ksatria. The right man at the wrong place. Ungkapan tadi sepertinya terlalu ekstrim untuk melukiskan kepribadian sang Kumbakarna.
Apa yang bisa kita pelajari dari Sang Kumbakarna? Silahkan semeton renungkan soang-soang. Hari Contreng sudah dekat. Pilihlah pemimpin yang Pandita-Giri-Jaya-Nangga-Aji layaknya Pandawa.
Selanjutnya, kisah Sang Wibisana…

A Tribute to Swami Vivekananda

Thursday, February 12th, 2009

swami-vivekananda

Swami Vivekananda merupakan salah satu tokoh pahlawan Hindu modern. Beliau dianggap sebagai rasul Hindu untuk Dunia Barat karena jasanya memperkenalkan Hindu ke Amerika dan Eropa pada abad ke 18. Penampilannya pada Parlemen Agama Agama sedunia di Chicago AS tahun 1893 telah menggugah pandangan Dunia Barat terhadap Agama Hindu. Beliau memperkenalkan Hindu ke Barat melaui pendekatan rasional dan kemanusiaan dengan mengajarkan filosofi Vedanta. Pengetahuan beliau yang luas tentang kebudayaan Barat dan Timur, spiritualitas, kepandaian berbicara, pribadinya yang hangat dan rasa kemanuasiaannya dan wibawanya merupakan hal yang membuat pribadi ini begitu mempesona.

Berikut beberapa kutipan Swami Vivekananda  yang mencerminkan pribadi dan karakternya  selalu memberikan semangat dan inspirasi bagi penulis.

“The greatest sin is to think that you are weak. No one is greater: realize that you are Brahman. Nothing has power except what you give it”

“Stand up, be bold, be strong. Take the whole responsibility on your own shoulders, and know that you are the creator of your own destiny. All the strength and succor you want is within yourselves. Therefore, make your own future.”

“He is an atheist who does not believe in himself. The old religion said that he was an atheist who does not believe in God. The new religion says that he is an atheist who does not believe in himself”

“You cannot believe in God until you believe in yourself”

“All the power is within you; you can do anything and everything. Believe in that; don’t believe that you are weak. Stand up and express the divinity with in you”

“The past was great no doubt, but I sincerely believe that the future will be more glorious still”

“Be A Hero Always Say I HAVE NO FEAR”

“To be good and to do good – that is the whole of religion”

By Litz

Live in my own reality and be awesome instead

Switch to our mobile site