Pilihan Sang Kumbakarna

Kumbakarna

Kumbakarna

Semeton, masih ingatkah dengan kisah Itihasa Ramayana tentang Sang Kumbakarna? Ia adalah adik dari Dasamuka Rahwana. Dikisahkan ketika Alengka diserang oleh pasukan kera pimpinan Sang Rama memporak-porandakan Alengka. Hanuman telah membakar seluruh Alengka setelah menyampaikan pesan Rama kepada Dewi Shinta. Rahwana kemudian mebangunkan dan meminta bantuan adiknya, Kumbakarna.
Kumbakarna digambarkan sebagai sosok yang besar, menyeramkan dan dalam pewayangan terkadang Ia adalah sosok wayang yang paling besar (ada yang mencapai 1.5 meter). Ketika terbangun dari tidur panjangnya dan mendengar bahwa selama tertidur Ia mendapati negaranya telah hancur oleh pasukan Kera pimpinan Rama.
Kumbakarna adalah sosok bijaksana, nasehat Kumbakarna kepada sang kakak Rahwana tidak digubris sama sekali. Rahwana tetap bersikeras akan melawan Rama meskipun Kumbakarna telah menasehati sang kakak bahwa tidaklah mungkin menang melawan Sang Kemenangan itu sendiri. Karena Rama adalah titisan Wisnu.
Kumbakarna, demi cintanya kepada negara, bersumpah akan melawan dan membela negaranya untuk melawan pasukan pimpinan Rama. Ia berkata bahwa “yang saya bela adalah tumpah darah saya, leluhur saya dan bukan keinginan kakak Rahwana”. Sebelum berperang, Ia sampaikan pesan ini ke Rama bahwa semangat cinta negara lah yang membawanya ke medan tempur. Ia gugur sebagai seorang ksatria. Ia gugur membela negara dan bukan kepentingan sang kakak Rahwana.
Kumbakarna dan Nasionalisme
Semeton, Weda berkata bahwa Weda takut akan kebodohan. Weda menyarankan untuk membaca dan memahami Itihasa Ramayana dan Mahabarata sebelum melanjutkan membaca Weda. Sari dari Itihasa sangatlah luar biasa. Kisah cinta negara dari Kumbakarna diatas adalah contoh perilaku yang mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi.
Kumbakarna, hanya tempatnyalah ada di sisi yang buruk tapi hatinya tetap seorang ksatria. The right man at the wrong place. Ungkapan tadi sepertinya terlalu ekstrim untuk melukiskan kepribadian sang Kumbakarna.
Apa yang bisa kita pelajari dari Sang Kumbakarna? Silahkan semeton renungkan soang-soang. Hari Contreng sudah dekat. Pilihlah pemimpin yang Pandita-Giri-Jaya-Nangga-Aji layaknya Pandawa.
Selanjutnya, kisah Sang Wibisana…

2 Responses to “Pilihan Sang Kumbakarna”

  1. Error: Unable to create directory /home/banjarmu/public_html/wp-content/uploads/2010/09. Is its parent directory writable by the server?

    adi saputra

    jadi kepikiran….

    kenapa ya kumbakarna gak ikut wibisana saja waktu wibisana diusir oleh rahwana dari alengka ??
    kan jadinya tidak “wrong place” posisinya..

    trus…
    mengapa beliau tidak membunuh kakaknya rahwana dan menyerahkan dewi sinta…
    dengan demikian akan lebih sedikit koban yang jatuh….

    ato kalaupun mati ….
    betul-betul mati di tangan rahwana guna membela kebenaran dan melawan angkara murka …

    mungkin doktrin ksatria kali ya….
    right or wrong this is my country…..

    mohon maaf jika ada yang kurang berkenan….

  2. Error: Unable to create directory /home/banjarmu/public_html/wp-content/uploads/2010/09. Is its parent directory writable by the server?

    sinoman

    kalau adi disuruh bunuh adik sendir?? walupun jahat?? gimana??

Leave a Reply




Switch to our mobile site