Archive for the ‘Kegiatan dan Tulisan Krama Banjar’ Category

BMK Sekarang Goes Mobile

Monday, May 10th, 2010

Om Swastiastu,

Krama Banjar sane wangiang Tityang.
Untuk memudahkan kita melakukan update tulisan di “Balai Banjar” kita ini, sekarang banjar-muda-kencana.org bisa diakses dengan versi lite/mobile yang lebih simple dan ringan.

Diharapkan dengan vasilitas ini, Krama Banjar sareng sami, bisa ikut serta menyumbangkan kreatifitas,pengetahuan, spiritual dan pemikiran pemikiran dalam bentuk tulisan.

Untuk bisa menyumbang tulisan diperlukan login ke dalam Dasboard website. Untuk itu silahkan mengirim email ke admin[at]banjat-muda-kencana.org untuk merequest username dan password sementara.

Sapunika Pengarah-arah rahinane mangkin.

Kirang Langkung Tityang sekadi Sinoman Nunas Sinampura.

Om Canti Canti Canti OM

Mahasiddha Bali (Orang-orang Suci Bali)

Tuesday, May 4th, 2010

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana Buddha dari Kediri ketika jaman Erlangga, beliau adalah kakak ipar dari Mpu Baradah seorang Mahasiddha di Jawa.Beliau berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Pada saat itu beliau mampu menyatukan berbagaimacam aliran atau sekte yang berkembang dibali. Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Beliau berhasil menyatukan sekte-sekte yang berkembang dibali disatukan menjadi paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider) di Pura Samuan Tiga ketika pemerintahan Raja Udayana di Bali.

4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek (selat Bali di gilimanuk).

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 dari desa keling dijawa, beliau adalah keturunan Brahmana Buddha tetapi beralih menjadi Brahmana Siwa, ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

7. DANGHYANG ASTAPAKA

Datang di Bali pada abad ke-14 dari desa keling dijawa, beliau adalah keturunan Brahmana Buddha saudara sepupu dari Danghyang Dwijendra, ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong beliau diundang kebali oleh kakak beliau untuk bersama memuput upacara dibesakih, setelah sampai di istana gelgel beliau diuji untuk menebak binatang didalam sumur yang ditutup. Beliaupun menjawab Naga, Dalem dan patihnya tertawa keras karena sebelumnya mereka menaruh angsa didalam sumur, tetapi setelah dibuka yang keluar malah seekor Naga, disanalah munculnya prosesi Naga Banda untuk upacara Ngaben bagi keturunan Dalem.

Pada saat pemberontakan Ki Batan Jeruk beliau bersama sisya pengiring mengungsi dari gelgel menuju karangasem dan membuat pesraman di Budakeling. sampai saat ini banyak jasa beliau dalam mempertahankan konsep keBuddhaan dan menurunkan Brahmana Buddha.

Ke-tujuh tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali, karena dibali sesungguh Siwa Sidhanta dan Buddha kasogatan menjadi satu dalam keseharian hidup dan ritual orang bali yang penuh Shanti.

N. Dwipayana, ST

Apakah Agama Orang Bali??

Monday, May 3rd, 2010

Ketika kita melihat Hindu tentu kita akan melihat India, ketika kita melihat Buddha kita akan melihat Thailand dan China, Ketika kita melihat Islam kita akan melihat Arab bagaimana dinegara-negara tersebut agama itu berkembang pesat. lalu bagaimana dengan bali yang notabene orang mengatakan Hindu tetapi sangat jauh berbeda dengan negara asalnya? itulah yang menjadi pertanyaan banyak orang apakah sesungguhnya agama dibali yang konon katanya berpaham Siwa Sidhanta. Disini saya akan mencoba mengulas sejarah awal Siwa, Buddha perkembangannya dan dinamikanya sampai disebut Siwa Sidhanta sebatas pemikiran dan kesadaran saya.

Sinkretisme Siva-Buddha di Indonesia adalah suatu gejala keagamaan yang sangat komplek. Istilah-istilah: siva-buddha tunggal dan bhinneka tunggal ika, secara khusus, memang bisa memberi indikasi yang kuat tentang sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia. Tetapi dalam arti yang lebih luas sumber-sumber sastra Jawa Kuna yang memuat istilah-istilah tersebut secara keseluruhan tidak berbicara tentang kemanunggalan di antara kedua sistem keagamaan tersebut. Para sarjana, peneliti dan pemerhati, telah mengkaji masalah ini dari berbagai sudut pandang. Tetapi masalah Siva-Buddha tidak sesederhana seperti yang diperkirakan sebelumnya. Kebanyakan para sarjana menganggap bahwa masalah Siva-Buddha sudah selesai dengan mengutip sumber-sumber yang terbatas dalam kesusastraan Jawa Kuna. Masalah Siva-Buddha bukan terjadi karena diambil begitu saja melalui sumber-sumber arkeologi maupun sumber-sumber sastra. Keberadaannya dalam panggung sejarah karena kontribusi yang diberikan oleh para sarjana, baik para orientalis barat, sarjana India maupun sarjana Indonesia. Itulah sebabnya masalah Siva-Buddha ini menjadi semakin komplek karena diwarnai oleh silang pendapat para sarjana.

Kompleksitas permasalahan tersebut sudah tampak sejak di India, yaitu dengan adanya kenyataan “saling menukar” dewa-dewa di antara agama Hindu, Buddha dan Jaina. Dewa-dewa Hindu seperti Parvati dan Indra ditemukan di antara dewa-dewa Jaina, demikian juga dewa ganapati , Saraswati, Mahakala, Nilakantha, dan sebagainya, terkenal di antara dewa-dewa Buddha. Sementara Hindu meminjam dewa-dewa Buddha seperti Mahacina Tara, Janguli dan Vajrayogini di bawah nama Tara, Manasa dan Chinna-masta. Kenyataan ini menyulitkan para peneliti untuk memberi batasan yang tegas mengenai sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme. Di Indonesia, kesusastraan Jawa Kuno, tidak hanya berbicara tentang penyamaan-penyamaan yang terbatas antara Siva dan Buddha, melainkan juga diantara kelompok-kelompok dewa dalam agama Hindu dan Buddha, di samping penyamaan dewa-dewa dalam intern agama Hindu dan intern agama Buddha secara terpisah. Buddha kadang-kadang disamakan dengan Visnu. Di tempat lain Buddha disamakan dengan Brahma, atau Visnu disejajarkan kedudukannya dengan Siva (Harihara).

Tulisan-tulisan tentang Siva-Buddha, baik berupa artikel maupun hasil-hasil penelitian, sudah cukup banyak dipublikasikan. Namun, suatu gejala yang aneh bahwa di Bali sendiri, umat Hindu yang memuja tuhan “Siva-Buddha” sebagai Sanghyang Tunggal, kebanyakan belum memahami realitas ini. Padahal teks-teks yang menguraikan tentang sinkretisme Siva-Buddha di Bali terus bermunculan sampai pada zaman modern ini. Lebih dari itu, hasil penelitian menunjukkan, gejala sinkretisme Siva-Buddha di Bali merupakan yang terbesar dibanding masa-masa sebelumnya, baik di Jawa Timur (pada zaman Majapahit), maupun di India (pada Dinasti Pala). Kenyataan ini menuntut adanya penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai eksistensi Siva-Buddha dalam realitas kehidupan umat Hindu di Bali. Penelitian ini akan memfokuskan kajian pada dinamika atau evolusi Siva-Buddha dalam ajaran Tantra yang menjadi medium penyatuan Siva-Buddha di Bali. Dengan fokus kajian tersebut, diharapkan mampu memberi gambaran tentang eksistensi Siva-Buddha dalam realitas masyarakat umat Hindu di Bali.

Dalam keseharian secara ritual umat hindu lebih banyak memakai ritual siwa dan memaknai kehidupan dengan ajaran Buddha. Umat bali pada umumnya sangat percaya akan hukum karmaphala dan renkarnasi dimana hal ini menjadi titik temu kedua paham tersebut. Dalam bentuk ritual umat hindu tidak membedakan antara Siwa dan Buddha, dalam upacara besar kedua pendeta tersebut mendapat kedudukan yang tinggi dimana Brahmana Siwa dan Buddha diberikan wewenang untuk menyelesaikan upacara.

Brahmana Siwa saat ini terdiri dari keturunan Dang Hyang Nirarta yang disebut Ida Pedanda Siwa. dewasa ini dengan tergerusnya sistem kasta muncul brahmana dari latar belakang umat awam (bukan keturunan brahmana) dimana secara mental dan fisik siap dan secara ilmu agama berhak mendapat diksa yang disebut Ida Sri Mpu. Dalam prosesinya lebih cendrung seperti aliran tantra yaitu mengunakan mudra, visualisasi dan pemujaan kepada arah mata angin sesuai dengan dewanya masing-masing. dalam sarananya Brahmana siwa memakai satu genta dikiri disebut Bajra Genta.

Brahmana Buddha yang ada dibali secara mantra dan kitab berbeda dengan pendeta siwa, kitab yang digunakan adalah Sang Hyang Kamahayanikan dan puja astawa memuja dharani Buddha sebagai penguasa masing-masing arah. Sampai saat ini yang memegang teguh garis perguruan Brahmana Buddha hanya mereka keturunan Yang Maha Suci Dang Hyang Astapaka di Budakeling karangasem. Para Brahmana dalam ritualnya tidak memusung rambut seperti pendeta Siwa tetapi bebas. Pendeta Siwa memiliki banyak batasan dalam hal makanan, tapi tidak demikian dengan pendeta Buddha mereka bebas dalam hal itu. tetapi dalam hal ritual diksa pendeta Buddha tidak sembarangan dalam melakukan diksa. tidak semua siswa nabe akhirnya didiksa, hanya mereka yang benar-benar siddhi dan mampu menggunakan Bajra nengen sejenis senjata Vajra ditangan kanan untuk pelindung ketika upacara yang akhirnya memperoleh diksa. dalam hal upacara ritual Brahmana buddha memakai dua Bajra yaitu: Bajra Genta dan Bajra Nengen ( Bajra Genta dikiri untuk menghubungkan dengan para Dewa dan Buddha, Bajra Nengen dikanan untuk melindungi sang pendeta dari serangan Butha dan asura). Dalam Upacara besar di bali tidak akan lengkap tanpa kehadiran Brahmana Buddha. dan di Pura terbesar dibesakih wajib bagi tiga pendeta untuk menyelesaikan upacara pendeta SIwa, Buddha dan Waisnawa tanpa ketiga pendeta tersebut ketiga alam bhur, bwah dan Swah tidak akan disucikan secara keseluruhan.

Ketaatan dan bhakti dalam ajaran Siwa Siddhanta dan filosofi pelepasan samsara yang agung dari Buddha Tantrayana telah mebuat Bali dijuluki Sorga Dunia, Pulai dewata, Pulau seribu pura… banyak wisatawan asing dan manca negara akhirnya menemukan kedamian di bali. karena dibali agama bukan diperdebatkan tetapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. konsep buddha untuk mengasihi setiap mahluk hidup bagi orang bali sangat ditaati, itulah bukan hanya dipura saja diberikan persembahan, tetapi kepada butha diperempatan, asura-asura dan mahluk halus lainnya ditempat-tempat keramat dibuatkan tempat agar mereka tenang dan tidak mengganggu manusia.

Paham apapun yang datang kebali dari dahulu akan disaring dan bahkan disatukan dengan konsep ajaran terdahulunya yang mana baik dan sesuai dengan jati diri mereka. Bagi orang bali berbagi dan memberi adalah anugrah… karena hal itulah yang menimbulkan akhir dari pencarian spiritual orang bali yaitu Om Shanti Shanti Shanti Om yang berarti damai dihati damai semua mahluk disekitar kita dan damai seluruh mahluk dialam semesta ini (Gede Prama). inilah yang menjadi agama sesungguhnya bagi orang bali yaitu Santhi (kedamaian).

?Surat Cinta?

Thursday, April 8th, 2010


Gubraaaaakkk…baca judulnya mungkin bikin meringis. Jaman sekarang masih ada yah surat cinta hihihiih… Dengan banyaknya sarana komunikasi apakah masih menggunakan sarana tradisional seperti itu . Meski saya lebih menyukai sarana yang ‘tradisional’. Lebih indah kayaknya…. karena yang nulis musti nyari kertas yang bagus dulu kalau bisa yang harum, cari pulpen yang nga beleber, nulis [...]

Menulis Itu?.

Saturday, April 3rd, 2010

Menulis itu bagi saya seperti sesuatu hal yang wajib namun tetap saja penyakit “M” itu datang bertubi-tubi. Tidak seperti dulu, dimana saat ingin menulis sesuatu, saya bisa langsung ‘menuangkannya’ di blog ini tanpa gangguan. Jika sekarang, saya tentu tidak bisa seenak jidat. Suasana dan keadaan lingkungan yang berubah membuat saya tidak bisa 24 jam di [...]

Banjir Dayeuhkolot

Thursday, March 25th, 2010

Matahari & Bulan [Malam]

Saturday, March 6th, 2010

Setahun yang lalu…..
Tentang seorang pria dan wanita.
Sang pria sangat menyukai Bulan. Tiap malam sebelum tidur, dia selalu memandang sinar rembulan. Cahaya rembulan membuat hatinya sejuk dan tenang. Kegalauan yang dia rasakan menjadi memudar seiring indahnya sinar rembulan. Meski mendung atau hujan datang, dikala sinar rembulan terhalang, sang pria tetaplah menunggu, rembulan……..
Sedangkan sang wanita sangat menyukai [...]

Rumah Sejati

Thursday, February 4th, 2010

“Dia bagaikan seorang Ibu yang melepas anak kesayangan-Nya di dunia fana/maya,
dan telah berkali-kali Dia mengirim Pelayan-Nya yang paling setia, untuk mengantarkan
anak-Nya pulang ke Rumah Sejati dengan jalan Kasih Yang Paling Utama, namaun kadang
kita tidak menyadari Kasih itu dengan sempurna”.

“Dan sesungguhnya, Rumah itu tidaklah terlalu jauh dari kita, hanya saja kita belum mengetahui
kalau itu sebenarnya adalah [...]

Surat Buat Kampung Halaman

Tuesday, January 19th, 2010

Yang Terkasih Kampungku,
Apa kabar ? Aku berharap engkau dan keluarga selalu dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Diriku di sini baik-baik saja, berkat doamu aku masih bisa menyapa teman-temanku dan mengingat lembayungmu. Bersama surat ini, aku ingin menyampaikan kerinduan yang sangat mendalam yang aku rasakan, kerinduan [...]

Prihal Beragama

Tuesday, January 5th, 2010

Perihal beragama, adalah bukan sekedar meyakini. Merasakan, mengalami, menyatakannya dalam karya, dan membagikan adalah beragama.

Bukan timbul dari rasa takut, karena ketika aman, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena rasa takut, maka kita akan menjadi penyebar kengerian dan terror.
Bukan timbul karena suatu keinginan dan usaha untuk mengabulkannya, karena ketika hasrat kita tak kesampaian, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena imbalan pahala, maka kita akan menjadi tak lebih dari pedagang yang sedang menjual barang-barang.
Bukan timbul karena kewajiban atau rasa terimakasih, karena ketika hak tidak diberikan, maka akan ditinggalkan. Bila kita membagikan agama yang timbul karena rasa kewajiban, maka kita tengah mengajarkan ketidaktulusan.

Agama adalah mengenai cinta, kerelaan dan pengorbanan, kerinduan perpisahan dan perjumpaan, tentang sukacita dan bahagia. Bila kita membagikan agama, kita membagikan cinta dan kebahagiaan. Kita berbelaskasih bukan menghakimi. Kita mengapresiasi bukan menilai. Sorak sorai gembira kita bukan karena bahagia tapi karena melihat kebahagiaan. Sedih hati kita bukan karena derita tapi karena yang lain berduka. Berpesta bukan karena mendapat nikmat surga, namun karena merasakan kesejukannya bahkan di tengah api neraka. Pesta orang beragama adalah pestanya setetes hujan yang jatuh di padang gurun.

Beragama adalah perihal mencintai dan berbahagia. Orang yang beragama adalah kerabat dekat sang mempelai dalam pesta perkawinan. Yang berbahagia demi membawa kebahagiaan ke tengah-tengah keluarga, ke dalam dunia. Demi ini dia memberi bukan dihadiahi. Dalam pemberian dia memperoleh kelimpahan, dalam pengorbanan dia memperoleh kepenuhan, dalam persembahannya dia memperoleh kesempurnaan.

Beragama adalah belajar menjadi kayu bakar demi hidup api unggun yang menghangatkan para pengembara yang tersesat, kedinginan di hutan beku. Membantu sedikit mengobarkan nyalanya, sekalipun di akhir yang tersisa hanya abu… hanya abu

Oleh : Venkateshwar Rangarajadasan

Switch to our mobile site